“Jalan samurai itu tidak saja sulit tetapi juga suci dan mulia. Setiap hari seorang samurai harus berperang melawan diri sendiri demi mencapai kesempurnaan, sekaligus mengetahui bahwa ia juga akan gagal. Setiap malam, seorang samurai harus beristirahat dalam rangka memperbaharui perjuangannya keesokan pagi. Di atas itu semua, seorang samurai harus belajar patuh. Kewajiban utamanya adalah pengabdian tanpa ragu kepada tuannya, sampai pada taraf di mana ia bersedia mengorbankan nyawanya jika itu yang diminta darinya” (Kapten Muraki kepada Jimmu hal 96)
Samurai (http://tonvanalebeek.deviantart.com)
“Bicaramu kekanak-kanakan, Bocah. Kau tak menyadari betapa beruntungnya dirimu. Kebanyakan orang menjalani kehidupan yang tak terarah ataupun bermakna. Sementara kau punya tujuan, kau tahu kenapa kau hidup di bumi, dan apa yang harus kau lakukan. Pegang terus tujuan itu. Tanpanya, kau hanyalah putra seorang pengkhianat dan gelandangan” (Nichiren kepada Jimmu hal 114)
Selalu menarik kalau membaca buku-buku atau novel cerita timur oleh pengarang barat, sebelumnya saya pernah membaca buku Carole Wilkinson yang berjudul Dragon Keeper. Berbeda dengan cerita Carole Wilkinson, saya membaca novel berjudul “The Way of The Warrior” karangan Andrew Matthews. Pada mulanya saya menganggap ceritanya biasa saja seputar kisah heroik samurai Jepang. Tokoh utama Shimomura Jimmu kehilangan segalanya ketika sang ayah melakukan seppuku akibat dipermalukan oleh Choju Ankan. Ia pun melatih diri sebagai samurai agar dapat membalaskan dendam sang ayah serta memulihkan nama baik keluarganya. Berlatar belakang kehidupan di Jepang pada abad ke-16, buku ini bercerita tentang loyalitas dan pengkhianatan, masa lalu serta ramalan di masa depan, dan jalan hidup seorang samurai.
Dengan modal keahliannya bertarung, Jimmu bertekad menemukan Lord Ankan dan menyamar sebagai samurai yang ingin mengabdi kepada Lord Ankan. Jimmu diterima menjadi penjaga kastil Mitsukage keluarga Choju Ankan dan mulai membuat perencanaan untuk mengintai mangsanya. Ia sudah mempersiapkan segalanya, mempelajari tata letak kastil dan menyelidiki keadaan.
Setelah membaca novel ini saya menemukan banyak yang sangat berarti tentang jalan hidup menjadi seorang ksatria. Pelajaran penting tentang kesabaran, keteguhan dan keberanian. Novel ini menarik bukan saja karena sarat dengan nilai-nilai itu, tetapi kejutan yang tiba-tiba saja muncul dan memberikan perspektif lain dalam memandang budaya Jepang ”Seppuku” dalam pandangan orang barat. Intrik drama juga ada, jadi pada saat tertentu saya begitu terlarut di dalam kancah pertarungan, tetapi pada sesi yang lain saya tersenyum-senyum membaca novel ini.

Share this:

Related Posts

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment

Disqus Comments