"Ekonomi dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan lingkungan dibutuhkan untuk mendukung sumberdaya tetapi keberadaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui menjadi masalah tersendiri karena berhubungan dengan harga dan masalah sosial lainnya"

Pembangunan ekonomi di beberapa negara telah berhasil menaikan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Ilmu ekonomi dengan rangkaian teori yang dilahirkan telah memainkan peranan penting dalam membentuk alur pemikiran dan intuisi para perencana ekonomi. Namun bersamaan dengan kemajuan ekonomi timbul beberapa masalah dan dampak lingkungan hidup. Sumberdaya yang semakin menipis dan munculnya berbagai jenis pencemaran mulai dianggap menghambat kemajuan ekonomi.
Lingkungan hidup berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi dibidang produksi, konsumsi dan distribusi. Seiring dengan hal itu maka terjadi kekuatiran bahwa kualitas dan kuantitas sumberdaya menurun akibat kegiatan ekonomi yang dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan kemajuan ekonomi pada tahap berikutnya.
Maka dibutuhkan perangkat tolak ukur untung rugi dari berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan. Memperhitungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh langkah perlindungan dan pengendalian juga merupakan bagian penting dari kajian untuk pengembangan suatu proyek. Jadi masalah lingkungan dan penggunaan sumberdaya alam sudah sepatutnya dipandang lebih sebagai persoalan ilmu ekonomi daripada persoalan moral.
Kriteria Dasar Ekonomi
-        Kepuasan (utility). Konsep pareto optimum mengatakan bahwa sementara orang ingin mencapai kepuasan sebesar-besarnya, kondisi yang tercapai harus menunjukan bahwa memberikan manfaat pada satu orang atau kelompok masyarakat tanpa merugikan orang lain.
-   Produktivitas, konsep ini mirip dengan konsep kepuasan; keduanya menyangkut suatu tingkat maksimum yang hendak dicapai masyarakat. Namun, konsep produktivitas memusatkan perhatian pada hasil yang diukur (kardinal), yakni barang dan jasa, termasuk mutu lingkungan. Hubungan antara efisiensi dalam konsep produktivitas dan pareto-optimum memang tidak sederhana.  Jika setiap orang ingin segalanya dalam jumlah yang banyak, suatu perekonomian tidak dapat berjalan secara pareto-optimal kecuali jika benar-benar efisien dalam melakukan produksi. Kita tidak akan bisa memilih antara dua titik pada garis kemungkinan produksi kecuali jika ada tolok ukur nilai maksimum barang dan jasa yang dihasilkan suatu masyarakat (misalnya produk domestik bruto, PDB menurut harga pasar tertentu)
-      Dalam dua kriteria yang dibahas sejauh ini, soal pemerataan atau distribusi tidak dibahas secara eksplisit, jika kita amati secara mendalam, dalam proses pengambilan keputusan ekonomi yang menyangkut masalah lingkungan, persoalan alokasi biaya perlindungan dan distribusi manfaat bagi beberapa kelompok masyarakat yang berbeda akan selalu muncul. Pada umumnya, menghitung dan menentukan alokasi biaya tidak terlalu sulit dibandingkan dengan memperkirakan besaran serta distribusi manfaat.
Ekonomi Pencemaran
Ilmu ekonomi telah mempunyai beberapa konsep dan peralatan analisis untuk mendekati persoalan polusi. Salahsatu yang dikenal adalah analisis manfaat-biaya dimana konsep compensating variation (CV) danequivalent variation (EV) biasanya dibicarakan melalui topik yang menyangkut surplus konsumen (CS).
Dalam ilmu ekonomi, konsep tentang harga bayangan (shadow price)dan eksternalitas juga sangat relevan untuk analisis manfaat-biaya suatu masalah polusi. Harga bayangan diperlukan untuk mengatasi keadaan dimana harga pasar tidak dapat diperoleh.
Seringkali dijumpai kesulitan untuk mengukur eksternalitas, baik kerugian eksternalitas, misalnya kerusakan lingkungan seperti polusi air, polusi zat kimia dan polusi udara yang ditimbulkan oleh suatu proyek, maupun keuntungan eksternal seperti misalnya akses terhadap pemandangan alam dan mutu pelayanan yang meningkat karena adanya suatu proyek.
Perlu keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan lingkungan (iden wildensyah)
Optimisasi dalam Ekonomi Sumberdaya
Pengikisan sumberdaya sering diinterpretasikan secara sederhana bahwa perekonomian akan kehabisan sumberdaya, terutama sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (Non renewable) dan bila hal ini berlangsung maka akan terjadi bencana bagi kemakmuran manusia. Pemikiran yang sederhana ini bukan saja tidak tepat tetapi juga akan menghambat usaha pembangunan dan pertumbuhan ekonomi termasuk pola yang mengikuti konsep pembangunan berkelanjutan.
Dalam ilmu ekonomi tersedia alat analisis untuk mengatasi masalah semacam ini. Pertanyaan relevan yang menyangkut trade off antarwaktu-antargenerasi ialah: apakah mungkin suatu pola pengikisan yang dianggap efisien dari kacamata generasi sekarang dapat menyisakan sumberdaya sedikit atau bahkan tidak sama sekali untuk generasi yang akan datang? Perlu dicatat bahwa mengoptimalkan tingkat pengikisan sumberdaya juga berarti memaksimumkan present value (PV) sumberdaya tersebut. Dalam terminologi ekonomi, pemecahan masalah semacam ini umumnya menyangkut perhitungan social discounting rate (SDR). SDR ini perlu hitung dalam menentukan penggunaan sumberdaya alam secara optimal.
Menurut Solow dalam kerangka model dua faktor mengatakan bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1) elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan teknologi.
Untuk kasus sumberdaya yang renewable (dapat diperbaharui) asumsi awal yang dipakai adalah ”kaidah pertumbuhan alami” (natural growth law). Lingkungan hidup memiliki suatu ambang batas dalam jumlah stok atau populasi yang dapat ditunjang. Bila jumlah stok mendekati ambang batas tersebut, pertumbuhan akan melambat dan akhirnya berhenti. Batas ini akan dicapai bila penggunaan stok sumberdaya tidak lagi akan menghasilkan pertumbuhan, atau bila penggunaan stok secara kumulatif mendekati tingkat maksimum.
Konsep Kelangkaan Sumberdaya
Dari berbagai studi tentang kelangkaan sumber mineral belum dipastikan apakah sumberdaya di bumi secara ekonomis memang langka. Perbaikan pada beberapa faktor berikut akan mempengaruhi hasil penemuan diatas: perubahan teknologi, penyempurnaan proses produksi dan transportasi, penemuan deposit baru, skala ekonomi, dan faktor substitusi. Dua kasus energi (1974 dan 1979) cenderung mengukuhkan pendapata bahwa sumberdaya di bumi ini makin langka. Dalam diagram titik A mendekat dimana basis sumberdaya akan menciut, oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa para ahli secara terus menerus aktif mencari substitusi sumberdaya, mencoba menemukan proses produksi yang hemat sumbedaya dan melihat kemungkinan hasil substitusi hasil, yang berarti akan lebih banyak jumlah produksi dan konsumsi barang dan jasa yang berciri hemat sumberdaya.
Simpulan
Hanya dengan sedikit pengecualian, ekonom cenderung memperlakukan degradasi lingkungan sebagai kegagalan pasar (market failure). Bagi ekonom semacam ini fungsi lingkungan adalah untuk memasok barang alami seperti keindahan lanskap, menyediakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk menghasilkan barang ekonomi atau memasok tempat sampah bagi pembuangan produk sampingan dari limbah hasil kegiatan ekonomi Sampai batas tertentu bahkan konsep dan peralatan analisis ilmu ekonomi mampu membantu menemukan solusi dari setiap persoalan.
Mengabaikan faktor lingkungan akan menimbulkan suatu bencana terutama dilihat dari sudut konsep pembangunan berkelanjutan. Studi multidisiplin secara kolaboratif (dengan ilmuwan dari disiplin lain) jelas sangat diperlukan.
Komentar
Pemaparan Iwan Jaya Azis ini sangat mendasar terutama dalam konsep yang di tuliskannya, ini menjadi bagian penting dalam mensosialisasikan pemahaman tentang hubungan antara ekonomi dan sumberdaya lingkungan. Ada benang merah yang bisa ditarik dimana keduanya terdapat kesalingtergantungan satu sama lain. Ekonomi dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan lingkungan dibutuhkan untuk mendukung sumberdaya tetapi keberadaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui menjadi masalah tersendiri karena berhubungan dengan harga. Logikanyanya harga akan naik bila sumberdaya sedikit dan permintaan banyak. Sementara sumberdaya yang terus menipis dan pemintaan semakin banyak maka seiring dengan itu harga pun akan mengalami kenaikan yang signifikan.
Bila di telaah penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh dua faktor yaitu disebakan oleh meningkatnya kebutuhan ekonomi (economic requirement) dan gagalnya kebijakan yang diterapkan (policy failure). Peningkatan kebutuhan yang tak terbatas sering membuat tekanan yang besar terhadap lingkungan dan sumberdaya yang ada, suatu contoh kebutuhan akan ketersediaan kayu yang memaksa kita untuk menebang hutan secara berlebihan dan terjadinya tebang terlarang (illegal loging), kebutuhan transportasi untuk mobilitas dan mendukung laju perekonomian juga sering menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, dan kejadian dilaut dimana akibat kebutuhan ekonomi memaksa nelayan melakukan kegiatan tangkap berlebih (over fishing). oleh karena itu percepatan pembangunan ekonomi sudah selayaknya di barengi dengan ketersediaan sumberdaya dan lingkungan yang lestari.
Di makalah ini Iwan Jaya Azis menuliskan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan konsumsi berlebihan yang ditakutkan terjadi kelangkaan dengan mengikuti konsep Solow yang mengatakan bahwa tingkat konsumsi yang bisa dipertahankan sampai waktu tak terhingga dapat dicapai bila salah satu dari kondisi berikut dipenuhi: (1)  elastisitas substitusi antara sumberdaya dengan modal lebih besar dari satu (sangat elastis). (2) elastisitas tersebut sebesar satu namun kontribusi modal lebih besar dari kontribusi sumberdaya; (3) apabila terjadi perubahan teknologi.
Makalah yang ditulis pada masa orde baru ini masih relevan untuk kondisi saat ini, perbedaannya hanya pada masa itu subsidi terhadap pertamina masih besar maka paparan iwan tentang energi tidak begitu mendalam, hanya menuliskan dua kejadian pada tahun 1974 dan 1979. padahal kejadian pada masa orde barulah yang membuat kondisi kenaikan harga ini tidak dipahami sebagai sebuah keharusan dan tentunya kritik terhadap pembangunan berkelanjutan versi ekonom pun tidak dimunculkan. Karena semangat orde baru tahun dipublikasikan makalah ini masih sangat kental.
Untuk pegangan serta dasar bagi pengantar ilmu ekonomi sumberdaya dan lingkungan makalah ini bisa menjadi sebuah percikan bagi pengembangan wacana selanjutnya. Terutama sebagai perbandingan 2 periode kekuasan (orde baru, orde reformasi). Tidak ada salah juga menjadi pembanding untuk makalah serupa yang membahas tentang konsep-konsep renewable dan non renewable. Hanya saja pemaparan tentang sumberdaya energi sudah tidak relevan lagi kondisi saat ini. Karena perbedaan kondisi antara tahun 1980-1990 dengan tahun 2000 – kini.

Share this:

Related Posts

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment

Disqus Comments